Pengelola SPBU Kosio Ungkap Penyebab Antrian: Harga Tetap HET, Pasokan Normal Awal September

Suasana antrian di SPBU Kosio hari ini, Senin (31/8/2026)

BOLAANG MONGONDOW, ciptanews.id – Krisis kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite yang melanda Sulawesi Utara kini berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat di Kabupaten Bolaang Mongondow. Antrian panjang mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), memaksa warga menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan jatah bahan bakar bersubsidi.

Di tengah kekacauan distribusi tersebut, muncul keluhan baru dari warga Kecamatan Dumoga Barat terkait kondisi di SPBU Kosio. Melalui unggahan di media sosial, seorang warga menyoroti adanya disparitas harga yang mencurigakan. Menurutnya, harga Pertalite di SPBU Kosio terpantau lebih mahal dibandingkan depot-depot lain di sekitarnya, dengan catatan harga mencapai Rp15.000 per liter, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) resmi. Keluhan ini menambah daftar permasalahan BBM di daerah tersebut; selain soal ketersediaan, isu keterjangkauan dan transparansi harga kini juga menjadi sorotan tajam.

Bacaan Lainnya

Klarifikasi Pengelola: Tidak Ada Perubahan Harga, Stok Terkendala Cuaca

Menanggapi keluhan warga terkait anomali harga dan kelangkaan di lokasi tersebut, Deni, Penanggungjawab SPBU Kosio, memberikan klarifikasi tegas saat dikonfirmasi oleh ciptanews.id via pesan tertulis pada Senin (31/8/2026).

Deni membantah keras adanya kenaikan harga BBM di SPBU yang dipimpinnya. Ia menegaskan bahwa harga jual di SPBU Kosio tetap mengikuti ketentuan resmi pemerintah dan tidak ada perubahan apa pun.

“Tidak ada perubahan harga BBM,” tegas Deni. Pernyataan ini secara langsung menepis tuduhan bahwa SPBU Kosio menjual Pertalite di atas harga Rp15.000 seperti yang dikeluhkan warga.

Terkait kelangkaan yang menyebabkan antrian panjang, Deni menjelaskan bahwa masalah utamanya bukan pada kebijakan harga, melainkan pada gangguan logistik di tingkat suplai utama. Pengurangan pasokan Pertalite di SPBU Kosio telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut akibat faktor force majeure.

“Situasi penerimaan stock di SPBU yang dikurangi akibat keterlambatan kapal tengker masuk depot (Pertamina) Bitung dikarenakan musim angin/gelombang. Dan berlaku di semua SPBU se-Sulut,” jelasnya.

Solar Aman, Pertalite Diprediksi Stabil Awal September

Meskipun Pertalite mengalami kelangkaan parah, Deni memastikan bahwa ketersediaan jenis BBM lainnya, khususnya Solar, masih dalam kondisi aman dan terkendali. Hal ini penting untuk diketahui masyarakat agar tidak terjadi panic buying atau penimbunan yang justru memperparah krisis.

“Untuk solar aman pasokannya,” ujar Deni sembari meminta masyarakat untuk tidak panik menghadapi situasi saat ini. Berdasarkan informasi dari pihak Pertamina, keterlambatan kapal tanker akibat cuaca buruk di perairan Bitung diperkirakan hanya bersifat sementara.

“Jangan panik, masyarakat jangan panik. Awal September ini, pasti pasokan BBM akan kembali stabil,” pungkasnya. Ia berharap sosialisasi mengenai penyebab teknis kelangkaan ini dapat dipahami oleh publik, sehingga tidak timbul spekulasi liar mengenai permainan harga di tingkat SPBU.

Klarifikasi dari pengelola SPBU Kosio memberikan sedikit kelegaan terkait isu harga, namun tantangan utama tetap pada ketersediaan fisik BBM. Ketika pasokan dari Pertamina terhambat cuaca, SPBU-SPBU di Bolmong menjadi yang pertama merasakan dampaknya karena posisi geografis dan kapasitas tangki timbun yang terbatas.

Warga Dumoga Barat dan sekitarnya kini hanya bisa berharap prediksi stabilisasi pasokan pada awal September dapat terwujud. ciptanews.id akan terus memantau perkembangan situasi di SPBU Kosio dan memastikan apakah janji perbaikan dari pihak pengelola dapat terealisasi dalam waktu dekat.

Pasang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *