MANADO, CiptaNews.id — Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Manado terus memperkuat konsolidasi organisasi dan memperluas basis kader di lingkungan perguruan tinggi. Langkah terbaru dilakukan melalui pembentukan dua Komisariat Caretaker di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) dan Politeknik Negeri Manado (Polimdo).
Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Manado, Gerbong Wisma Trisakti secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) pembentukan kedua komisariat tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan organisasi sekaligus memperluas ruang pergerakan mahasiswa.
Penyerahan SK Komisariat Caretaker FEB Unsrat berlangsung di VIP Coffee Kleak, Senin (19/10/2026). Sehari kemudian, Selasa (20/10/2026), penyerahan SK untuk Komisariat Caretaker Polimdo dilaksanakan di Warkop BRMANO, Kecamatan Sario, Manado.
Pembentukan kedua komisariat ini menjadi langkah awal untuk memperkuat konsolidasi kader, menghidupkan kembali aktivitas organisasi, serta mempersiapkan kepengurusan definitif di masing-masing kampus.
Ketua DPC GMNI Manado periode 2025–2027, Matthew Liling, menunjuk sejumlah kader untuk menjalankan amanat tersebut.
Di FEB Unsrat, Chelsy Tindage dipercaya sebagai Ketua Komisariat Caretaker, didampingi Mirchely Kumolontang sebagai sekretaris. Sementara itu, di Polimdo, Anugerah Goli ditunjuk sebagai ketua dan Febrian Lumairo sebagai sekretaris Komisariat Caretaker.
Matthew, yang merupakan mantan Ketua Dewan Pimpinan Komisariat GMNI Fakultas Hukum Unsrat, menegaskan bahwa penyerahan SK tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Menurut dia, langkah itu merupakan bagian dari penguatan kelembagaan dan kesinambungan perjuangan organisasi di lingkungan kampus.
Ia berharap kedua tim caretaker mampu membangun komunikasi yang solid, memperkuat hubungan antarkader dan simpatisan, serta menghadirkan kembali dinamika pergerakan mahasiswa yang kritis dan konstruktif.
Bagi GMNI, kata Matthew, keberadaan organisasi di kampus tidak hanya berorientasi pada pembentukan struktur kepengurusan, tetapi juga pada proses pendidikan politik, pengembangan intelektualitas, dan pembentukan karakter kader yang berpihak pada kebenaran serta keadilan.
Dalam kesempatan tersebut, Matthew turut mengingatkan kader pada sejumlah pesan yang kerap dikaitkan dengan pemikiran dan perjuangan Bung Karno, terutama mengenai keberanian generasi muda, pentingnya cita-cita, serta keharusan bekerja keras untuk mencapai keberhasilan.
Ia menekankan bahwa semangat perjuangan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan berhenti pada slogan atau retorika organisasi.
“Keberhasilan organisasi hanya dapat diraih lewat kerja nyata, kesetiaan, dan pengorbanan tulus,” ujar Matthew.
FEB Unsrat dan Jejak Historis Pergerakan GMNI Manado
Penguatan kembali basis organisasi di FEB Unsrat juga memiliki dimensi historis bagi perjalanan GMNI di Kota Manado.
Fakultas yang dahulu dikenal sebagai Fakultas Ekonomi (Fekon) Unsrat itu disebut pernah menjadi salah satu basis kuat pergerakan GMNI pada era Jeffrey Rawis dan kawan-kawan.
Berdasarkan data internal organisasi yang disampaikan dalam materi kegiatan, jumlah kader GMNI di lingkup DPC Manado tercatat lebih dari 800 orang. Sekitar 60 persen di antaranya disebut berasal dari Fekon atau FEB Unsrat.
Pada dekade 1980-an, perkembangan gerakan tersebut juga disebut mendapat dukungan pembinaan ideologis dari sejumlah alumni dan akademisi, di antaranya Prof. H. Kabdou, Prof. J.A. Raco, Prof. M. Rogi, Prof. M. Mewengkang, serta Bernadus “Andu” Pangemanan.
Jejak historis tersebut menjadi salah satu landasan penting bagi upaya menghidupkan kembali basis kader di FEB Unsrat. Namun, tantangan organisasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan tradisi, melainkan juga memastikan kaderisasi berjalan secara berkelanjutan dan mampu menjawab perubahan zaman.
Sementara itu, pembentukan Komisariat Caretaker Polimdo menjadi bagian dari perluasan basis pergerakan GMNI ke lingkungan pendidikan tinggi lainnya di Manado.
Langkah ini diharapkan membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi mahasiswa untuk terlibat dalam diskusi kebangsaan, pendidikan politik, penguatan kesadaran sosial, dan pengembangan pemikiran kritis.
Menyulam Persatuan, Meneguhkan Perjuangan
Matthew meminta kedua tim caretaker menjalankan amanat organisasi dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan dedikasi. Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan Marhaenisme sebagai pijakan ideologis dalam menjalankan aktivitas organisasi.
Menurut dia, soliditas internal dan kemampuan membangun persatuan menjadi faktor penting agar organisasi dapat berkembang dan menjalankan perannya secara konsisten di lingkungan kampus.
“Prinsip Menyulam Persatuan dan Meneguhkan Perjuangan menjadi pedoman utama seluruh kader GMNI, baik di tingkat cabang maupun komisariat,” ucapnya.
Ia berharap kedua komisariat tidak hanya berhasil membangun struktur organisasi, tetapi juga mampu menjadi ruang pembelajaran, pengembangan intelektual, dan pengabdian sosial bagi mahasiswa.
Dengan terbentuknya Komisariat Caretaker FEB Unsrat dan Polimdo, GMNI Manado berupaya melanjutkan tradisi pergerakan yang telah tumbuh sejak generasi sebelumnya sekaligus memperluas jangkauan kaderisasi.
“Tentu diharapkan kedua komisariat ini mampu tumbuh dan berkembang menjadi rumah bagi mahasiswa yang kritis, berpihak pada kebenaran, dan siap berjuang demi kemerdekaan yang sesungguhnya,” tutup Matthew.(*/Steven)





