Wartawan Karbitan Era AI: Ingin Eksistensi Namun Minim Literasi, Nol Kompetensi dan Modal ChatGPT

Oleh: JONI HERMANTO, S.H.
Wartawan Utama | Praktisi Hukum | Pengamat Literasi Media | Pemimpin Redaksi Portal Berita Online Lacakpos.co.id dan Ciptanews.id

Kehadiran Artificial Intelligence (AI), termasuk ChatGPT, merupakan salah satu lompatan teknologi terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Dalam dunia jurnalistik, AI bukanlah musuh. Sebaliknya, AI adalah instrumen yang mampu meningkatkan efisiensi kerja redaksi, membantu proses research, menyusun kerangka tulisan, hingga mempercepat pengolahan data.

Namun, persoalan serius muncul ketika AI tidak lagi dijadikan alat bantu (tools), melainkan dijadikan otak utama oleh orang-orang yang mengaku wartawan tetapi sesungguhnya tidak memiliki kompetensi jurnalistik sedikit pun.

Fenomena inilah yang belakangan semakin mengkhawatirkan.

Kini kita menyaksikan lahirnya apa yang penulis sebut sebagai “Wartawan ChatGPT.”

Mereka tidak memahami konsep dasar jurnalistik, tetapi ingin terlihat profesional. Mereka minim literasi, tetapi haus eksistensi. Mereka tidak memahami etika pers, tetapi merasa telah menjadi jurnalis hanya karena mampu menyalin hasil tulisan AI.

Ironisnya, banyak di antara mereka bahkan tidak memahami isi berita yang mereka publikasikan sendiri.

Mereka sekadar melakukan copy, paste, lalu mengunggahnya ke media.

Padahal, jurnalisme bukan sekadar menyusun kalimat.

Jurnalisme adalah disiplin berpikir.

Jurnalisme adalah metodologi memperoleh fakta.

Jurnalisme adalah tanggung jawab moral terhadap publik.

AI Tidak Salah. Yang Salah Adalah Penggunanya.

ChatGPT mampu menghasilkan tulisan yang sangat baik.

Namun ChatGPT tidak berada di lokasi kejadian.

ChatGPT tidak melakukan wawancara.

ChatGPT tidak menyaksikan peristiwa.

ChatGPT tidak bisa membedakan mana narasumber kredibel dan mana narasumber yang sedang berbohong.

ChatGPT tidak memahami konteks sosial suatu daerah.

Semua itu adalah tugas wartawan.

Karena itu, AI hanya boleh menjadi assistant, bukan editor, apalagi reporter.

Seorang wartawan profesional tetap wajib menjalankan prinsip Check and Re-check, melakukan Fact Checking, Cross Check, Verification, serta memegang teguh asas Cover Both Sides.

Sayangnya, “wartawan instan” justru melewati seluruh proses tersebut.

Yang penting berita cepat tayang.

Yang penting halaman media terisi.

Yang penting terlihat aktif.

Padahal kosong secara substansi.

Tidak Mengenal Hard News, Soft News, Apalagi Feature

Dalam pendidikan jurnalistik terdapat berbagai bentuk karya.

Ada Hard News, yang mengutamakan kecepatan dan fakta.

Ada Soft News, yang lebih humanis.

Ada Feature, yang menuntut kemampuan bertutur, observasi mendalam, riset, serta sensitivitas terhadap nilai kemanusiaan.

Ada pula Investigative Reporting, Depth News, Interpretative News, Straight News, Opinion, Editorial, hingga In-depth Reporting.

Ironisnya, sebagian “wartawan ChatGPT” bahkan tidak mampu membedakan mana berita (news), mana opini (opinion), mana advertorial, mana siaran pers (press release), dan mana artikel ilmiah populer.

Mereka mengira seluruh tulisan hanyalah kumpulan paragraf.

Padahal setiap genre jurnalistik memiliki struktur, karakter, teknik penulisan, dan standar etik yang berbeda.

Tidak Mengenal 5W+1H, Tetapi Mengaku Wartawan

Dalam jurnalistik dasar dikenal prinsip 5W+1H.

Who.

What.

When.

Where.

Why.

How.

Kemudian berkembang menjadi konsep News Values, Newsworthiness, Angle, Lead, Nut Graph, Body, hingga Ending.

Masih ditambah lagi dengan pemahaman mengenai Headline, Deck, Caption, Byline, Dateline, Credit Line, Slug, Caption Writing, Pull Quote, Cutline, News Peg, serta teknik Headline Writing.

Semua itu dipelajari bertahun-tahun oleh wartawan professional, termasuk yang penulis lalui hingga sampai kecapain kompetensi Wartwan Utama.

Hari ini justru banyak orang yang tidak mengenal istilah-istilah tersebut tetapi sudah sibuk membagikan kartu pers.

Lebih memprihatinkan lagi, ketika ditanya mengapa AI menulis demikian, mereka sendiri tidak mampu menjelaskan alasan pemilihan kata, struktur narasi, maupun konteks informasi.

Off the Record Bukan Berarti Boleh Dipublikasikan

Masih banyak yang tidak dipahami oleh “Wartawan ChatGPT:

Off the Record

Background

Deep Background

On the Record

Embargo

Exclusive Interview

Doorstop Interview

Press Briefing

Press Conference

Padahal kesalahan memahami istilah-istilah tersebut dapat berakibat fatal.

Membocorkan informasi Off the Record bukan sekadar pelanggaran etika.

Itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan narasumber.

Kepercayaan adalah modal utama wartawan.

Sekali hilang, sulit untuk kembali.

AI Tidak Memiliki Nurani Pers

ChatGPT tidak mengenal Kode Etik Jurnalistik.

AI tidak memahami hak jawab, hak koreksi, asas praduga tak bersalah, perlindungan terhadap anak, korban kekerasan seksual, maupun kewajiban menjaga identitas korban.

AI juga tidak mengetahui konteks hukum, sosial, budaya, dan psikologis setiap berita.

AI akan menjawab berdasarkan pola bahasa.

Sedangkan wartawan bekerja berdasarkan tanggung jawab etik.

Di sinilah letak perbedaan mendasarnya.

Wartawan Bukan Operator Prompt

Fenomena lain yang cukup menggelitik adalah munculnya budaya Prompt Journalism.

Datang ke acara.

Memotret.

Meminta ChatGPT membuat berita.

Selesai.

Tidak ada observasi.

Tidak ada verifikasi.

Tidak ada wawancara lanjutan.

Tidak ada pencarian sudut pandang.

Tidak ada news angle.

Tidak ada news judgment.

Yang ada hanyalah ketergantungan total terhadap AI.

Akibatnya, banyak berita kehilangan ruh jurnalistik.

Tulisan memang tampak rapi.

Tetapi miskin fakta.

Miskin konteks.

Miskin makna.

Literasi Tidak Bisa Diunduh

Kompetensi wartawan tidak dibangun oleh kecanggihan aplikasi.

Kompetensi lahir dari budaya membaca.

Budaya berdiskusi.

Budaya mengamati.

Budaya berpikir kritis.

Budaya melakukan verifikasi.

Budaya mempertanyakan fakta.

Budaya menghormati etika.

Semua itu tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.

AI bisa membuat kalimat.

Tetapi AI tidak dapat menggantikan pengalaman lapangan seorang wartawan yang telah bertahun-tahun menghadapi narasumber, konflik sosial, dinamika politik, proses hukum, hingga tragedi kemanusiaan.

Menjadi Wartawan Itu Profesi, Bukan Gaya Hidup

Hari ini kita terlalu mudah menemukan orang yang mengaku wartawan hanya karena memiliki kartu pers, akun media sosial, atau media daring yang dibuat dalam hitungan jam.

Padahal menjadi wartawan bukan sekadar memakai rompi, membawa kamera, atau memegang mikrofon.

Menjadi wartawan berarti memikul amanah konstitusional sebagai penyampai informasi yang benar kepada masyarakat.

Profesi ini menuntut integritas, independensi, keberanian, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab yang tidak ringan.

Karena itu, AI seharusnya menjadi alat untuk memperkuat profesionalisme wartawan, bukan menjadi jalan pintas bagi mereka yang malas belajar.

Teknologi akan terus berkembang.

ChatGPT akan semakin cerdas.

AI akan semakin sempurna.

Namun satu hal yang tidak boleh hilang adalah kualitas manusianya.

Karena pada akhirnya publik tidak membutuhkan wartawan yang pandai mengetik prompt.

Publik membutuhkan wartawan yang mampu mencari kebenaran.

Sebab Artificial Intelligence tidak akan pernah mampu menggantikan Natural Intelligence yang dibangun oleh integritas, pengalaman, kompetensi, dan etika jurnalistik.

AI boleh membantu menulis berita. Tetapi AI tidak pernah bisa menggantikan hati nurani seorang wartawan.

Pasang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *